Wednesday, November 22, 2017

Menjadi Model Catwalk Pria

Banyak wanita dan pria ingin menjadi seorang model. Hal pertama yang kamu harus lakukan untuk bisa menjadi model profesional adalah belajar berjalan diatas catwalk. Ini adalah aspek yang paling penting dan dasar untuk menjadi seorang model profesional

Apa Itu Model Catwalk?
Model Catwalk adalah seorang model yang bertugas memperagakan produk busana hasil rancangan desainer di atas panggung peragaan (catwalk). Atau dengan kata lain seseorang yang dipekerjakan untuk tujuan menampilkan dan mempromosikan pakaian mode atau produk lainnya dan untuk tujuan iklan atau promosi atau yang berpose untuk karya seni.

Sebelum kamu berlenggak-lenggok memperagakan suatu busana atau aksesori karya perancang, tidak ada salahnya kamu membaca teknik dasar model catwalk agar kamu bisa memahami dan mempraktekkan serta kamu akan terampil saat di atas panggung.
Sedikit pemberitahuan aja ni guys....

Saat ini panggung kebanyakan berbentuk I-Catwalk. Sedangkan T-Catwalk sudah jarang digunakan. Dan untuk alasan kepraktisan, saat ini banyak juga panggung yang hanya terdiri dari catwalk tanpa panggung utama (main stage).

Sikap Berdiri Untuk Model Laki-Laki
Untuk laki-Iaki, berdiri dengan sikap kaki terbuka selebar bahu. Posisi lengan jangan menekuk, arahkan  pandangan lurus ke depan namun posisi kepala jangan kaku kamu bisa menoleh ke kiri atau ke kanan bila diperlukan, dada agak dibusungkan agar terlihat tegap dan bisa saja tahan otot perut.

Teknik Berjalan
Berjalan dengan langkah kaki melebar untuk memberikan kesan gagah. Melangkahlah seolah membentuk garis rel imajiner dengan tetap menjaga keseimbangan. Sesuaikan langkah kaki dengan irama musik, posisi tumit menapak ke lantai terlebuh dahulu.

Teknik Berputar
Mulailah langkah awalmu dengan kaki kanan. Saat harus berputar sesuai arahan koreografer saat latihan, berputarlah searah jarum jam dan ketika berputar, usahakan putaran tubuh dan pandangan mata berlawanan dengan arah putaran. Berputarlah secara berlahan, agar keseimbangan tubuh tetap terjaga dan terlihat lebih rapi dan pasti.

Teknik Berekspresi
Setiap busana yang dirancang memiliki tema tersendiri dan ditujukan untuk kesempatan tertentu. Karena itu cara membawakannya juga harus disesuaikan, apakah untuk gaya santai, formal, ataupun pesta.

Bloking Panggung
Saat fashion show yang bertanggung jawab soal blocking atau penguasaan panggung adalah koreografer. Namun terkadang pada fashion show skala kecil, tidak ada koreografer sehingga mau tidak mau, model-Iah yang harus berperan aktif menghidupkan panggung dan bertanggung jawab atas blocking panggung agar show berjalan rapi dan bisa dinikmati penonton.Titik pandang penonton adalah tengah panggung, karena itu hindari penumpukan model di satu tempat. Atur urutan berjalan dan ritmenya.

Biasanya koreografer sudah memberikan arahan bagaimana cara berjalan dan menampilkan eksepresi wajah yang sesuai dengan tema busana yang akan di peragakan.

Karakter Hubungan Idaman Kekasih

Cinta yang sesungguhnya akan membawamu ke arah yang lebih baik. Hal-hal yang positif selalu bisa kamu rasakan ketika menjalin hubungan dengannya. Doi bisa mengubah hidupmu  menjadi lebih dewasa. Hal ini akan kamu rasakan ketika menjalin hubungan yang dewasa dengan si doi.
Hubungan yang dewasa adalah karakter hubungan idaman semua pasangan kekasih. Kamu dan pacar juga mau kan punya hubungan yang dewasa? Tapi, hubungan semacam ini susah-susah gampang untuk diwujudkan! Butuh kerjasama yang baik antara kamu dan pacar. Salah-salah, kamu dan pasangan malah terjebak dalam hubungan yang kekanakan.
Memang apa sih bedanya hubungan yang dewasa dan hubungan belum dewasa atau kekanakan itu? Yok mari di simak..


Hubungan yang nggak matang sering mempertanyakan

Kalau kamu terus mempertanyakan apakah kekasihmu menyayangimu, apakah doi mencintaimu, apakah doi berselingkuh, apakah ke depannya kalian akan bersama-sama, itu pertanda hubungan kalian belumlah kokoh.
Beda cerita dengan hubungan yang udah dewasa (klop), nggak ada kekhawatiran yang agak lebay atau nggak penting di benak masing-masing pihak, satu sama lain juga saling percaya.


Memberikan yang kamu butuhkan bukan selalu menuntut sesuatu

Hubungan yang nggak dewasa akan mengganggu ketenangan hidupmu dengan segala tuntutan-tuntutannya. Misalnya tuh pasangan kamu selalu memintamu mengabarinya setiap jam tentang semua kegiatanmu, melarangmu melakukan ini dan itu, dan banyak lagi. Hellow doi juga ada kesibukan sendiri.
Lain cerita bila kamu dan pasangan meyakini bahwa tanpa perlu meminta, masing-masing tahu apa dan bagaimana harus bersikap untuk saling menghargai. Pasangan dalam konsep hubungan ini akan memberimu waktu luang untuk 'me time', begitu pula sebaliknya kamu terhadap dia.


Cenderung mendominasi, seharusnya menjadi dua pribadi saling melengkapi

Kalau kamu dan pasangan merasa harus sama satu dengan yang lain, memaksakan keinginan, bahkan ada hasrat dan perilaku mendominasi, itu adalah hubungan yang belum dewasa.
Tapi bagi kamu yang memiliki hubungan dewasa, akan memahami bahwa masing-masing pihak memiliki karakternya sendiri-sendiri. Semakin keren kalau kamu dan pasangan memahami bahwa perbedaan itu indah dan berfungsi untuk saling melengkapi satu sama lain.


Merasa kehilangan kendali pada diri sendiri, hubungan yang dewasa justru memberimu motivasi

Hubungan yang nggak dewasa akan sibuk menuntutmu memiliki lebih banyak waktu dengannya. Alhasil, waktumu tersita untuk meraih cita-citamu, meluangkan waktu untuk keluarga dan teman, dan sebagainya.
Berbeda dengan mereka yang memiliki hubungan dewasa dan matang. Mereka saling memotivasi untuk meraih apa yang diinginkan. Selain itu, mereka juga berpikir bahwa prestasi yang mereka raih di luar sana, pada akhirnya juga demi kehidupan berdua.


Bertengkar via teks, hubungan yang dewasa memilih bertatap muka

Kalau kamu dan pasangan suka berantem melalui pesan teks, kalian belum dewasa dalam hubungan asmara. Belum lagi pesan teks terkadang multitafsir, justru yang ada malah memperkeruh suasana. 
Tindakan itu nggak akan dilakukan oleh pasangan yang sudah memiliki pemikiran matang dalam asmara. Mereka akan memilih menyelesaikan masalah dengan bertatap muka supaya semuanya menjadi jelas.


Merasa terancam dengan kehadiran orang lain, hubungan dewasa justru senang bertemu orang lain

Akan selalu ada orang baru yang kita temui. Tapi bagi kamu yang belum berpikir matang dalam hubungan asmara, pasti kamu merasa cemburu buta pada pasanganmu.
Hal tersebut jelas nggak berlaku bagi mereka yang telah dewasa dalam berelasi. Mereka percaya bahwa satu sama lain sudah saling terikat sehingga nggak ada kekhawatiran akan tergoda pihak ketiga.


Sering mengungkit dan menilai masa lalu, hubungan dewasa justru membuatmu 'membawa' masa lalu itu bersama hubungan kalian

Kamu yang sedikit-sedikit mengungkit masa lalu pasangan dan menilai macam-macam, belumlah dikatakan memiliki pemikiran yang matang terhadap hubungan asmara dengan pasanganmu.
Orang yang mampu berpikir dewasa, akan menganggap bahwa bagaimanapun masa lalu kekasihnya, dia akan menerimanya. Justru dia ingin mengajak pasangan untuk menjadikan masa lalu sebagai pijakan untuk lebih baik ke depannya, secara bersama dengan pasangannya.

Nah itulah beberapa poin tentang hbungan yang dewasa dan hubungan yang masih kanak-kanak. Pastikan kamu menjalani hubungan asmara yang bisa bikin kamu bahagia, lebih bersemangat meraih cita-cita, lebih tangguh, dan menumbuhkanmu menjadi pribadi yang lebih baik, ok.

Friday, October 27, 2017

Istri yang Shaleha

Sore itu, menunggu kedatangan teman yang akan menjemputku di masjid ini seusai ashar, seorang akhwat datang, tersenyum dan duduk disampingku, mengucapkan salam, sambil berkenalan dan sampai pula pada pertanyaan itu.
“ukhtysudah menikah?”. “Belum mbak”, jawabku. Kemudian akhwat itu .bertanya lagi “kenapa?” hanya bisa ku jawab dengan senyuman, ingin ku jawab karena masih kuliah, tapi rasanya itu bukan alasan. “mbak menunggu siapa?” aku mencoba bertanya. “nunggu suami” jawabnya.

Aku melihat kesamping kirinya, sebuah tas laptop dan sebuah tas besar lagi yang tak bisa kutebak apa isinya. Dalam hati bertanya- tanya, dari mana mbak ini? Sepertinya wanita karir. Akhirnya kuberanikan juga untuk bertanya
“mbak kerja dimana?”, ntahlah keyakinan apa yg meyakiniku bahwa mbak ini seorang pekerja, padahal setahuku, akhwat-akhwat seperti ini kebanyakan hanya mengabdi sebagai ibu rumah tangga.
“Alhamdulillah 2 jam yang lalu saya resmi tidak bekerja lagi” , jawabnya dengan wajah yang aneh menurutku, wajah yang bersinar dengan ketulusan hati. “kenapa?” tanyaku lagi.
Dia hanya tersenyum dan menjawab “karena inilah cara satu cara yang bisa membuat saya lebih hormat pada suami” jawabnya tegas. Aku berfikir sejenak, apa hubungannya? Heran. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.

Ukhty, boleh saya cerita sedikit? Dan saya berharap ini bisa menjadi pelajaran berharga buat kita para wanita yang Insya Allah akan didatangi oleh ikhwan yang sangat mencintai akhirat. “saya bekerja di kantor, mungkin tak perlu saya sebutkan nama kantornya. Gaji saya 7juta/bulan. Suami saya bekerja sebagai penjual roti bakar di pagi hari, es cendol di siang hari. Kami menikah baru 3 bulan, dan kemarinlah untuk pertama kalinya saya menangis karena merasa durhaka padanya.

Waktu itu jam 7 malam, suami baru menjemput saya dari kantor, hari ini lembur, biasanya sore jam 3 sudah pulang. Saya capek sekali ukhty. Saat itu juga suami masuk angin dan kepalanya pusing. Dan parahnya saya juga lagi pusing. Suami minta diambilkan air minum, tapi saya malah berkata, “abi, umi pusing nih, ambil sendirilah”. Pusing membuat saya tertidur hingga lupa sholat isya. Jam 23.30 saya terbangun dan cepat-cepat sholat, Alhamdulillah pusing pun telah hilang.
Beranjak dari sajadah, saya melihat suami saya tidur dengan  pulasnya. Menuju ke dapur, saya liat semua piring sudah bersih tercuci. Siapa lagi yang bukan mencucinya kalo bukan suami saya? Terlihat lagi semua baju kotor telah di cuci.

Astagfirullah, kenapa abi mengerjakan semua ini? Bukankah abi juga pusing tadi malam? Saya segera masuk lagi ke kamar, berharap abi sadar dan mau menjelaskannya, tapi rasanya abi terlalu lelah, hingga tak sadar juga. Rasa iba mulai memenuhi jiwa saya, saya pegang wajah suami saya itu, ya Allah panas sekali pipinya, keningnya, Masya Allah, abi deman, tinggi sekali panasnya. Saya teringat atas perkataan terakhir saya pada suami tadi. Hanya disuruh mengambilkan air minum saja, saya membantahnya. Air mata ini menetes, betapa selama ini saya terlalu sibuk diluar rumah, tidak memperhatikan hak suami saya.

”Subhanallah, aku melihat mbak ini cerita dengan semangatnya, membuat hati inimerinding. Dan kulihat juga ada tetesan air mata yg di usapnya.“anty tau berapa gaji suami saya? Sangat berbedajauh dengan gaji saya. Sekitar 600-700rb/bulan. 10x lipat dari gaji saya. Dan malam itu saya benar-benar merasa durhaka pada suami saya. Dengan gaji yang saya miliki, saya merasa tak perlu meminta nafkah pada suami, meskipun suami selalu memberikan hasil jualannya itu pada saya, dan setiap kali memberikan hasil jualannya , ia selalu berkata “umi,,ini ada titipan rezeki dari Allah. Di ambil ya. Buat keperluan kita. Dan tidak banyak jumlahnya, mudah2an umi ridho”, begitu katanya.Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata-kata itu. Betapa harta ini membuat saya sombong pada nafkah yang diberikan suami saya”, lanjutnya “Alhamdulillah saya sekarang memutuskan untuk berhenti bekerja, mudah-mudahan dengan jalan ini, saya lebih bisa menghargai nafkah yang diberikan suami.

Wanita itu begitu susah menjaga harta, dan karena harta juga wanita sering lupa kodratnya, dan gampang menyepelekan suami. ”Lanjutnya lagi, tak memberikan kesempatan bagiku untuk berbicara. “beberapa hari yang lalu, saya berkunjung ke rumah orang tua, dan menceritakan niat saya ini. Saya sedih, karena orang tua dan saudara-saudara saya tidak ada yang mendukung niat saya untuk berhenti berkerja. Malah mereka membanding-bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.” Aku masih terdiam, bisu, mendengar keluh kesahnya. 

Subhanallah, apa aku bisa seperti dia? Menerima sosok pangeran apa adanya, bahkan rela meninggalkan pekerjaan. “kak, kita itu harus memikirkan masa depan. Kita kerja juga untuk anak-anak kita kak. Biaya hidup sekarang ini besar. Begitu banyak orang yang butuh pekerjaan. Nah kakak malah pengen berhenti kerja. Suami kakak pun penghasilannya kurang. Mending kalo suami kakak pengusaha kaya, bolehlah kita santai-santai aja di rumah. Salah kakak juga sih, kalo ma jadi ibu rumah tangga, seharusnya nikah sama yang kaya. Sama dokter muda itu yang berniat melamarkakak duluan sebelum sama yang ini. Tapi kakak lebih milih nikah sama orang yang belum jelas pekerjaannya. Dari 4 orang anak bapak, Cuma suami kakak yang tidak punya penghasilan tetap dan yang paling buat kami kesal, sepertinya suami kakak itu lebih suka hidup seperti ini, ditawarin kerja di bank oleh saudara sendiri yang inginm membantupun tak mau, sampai heran aku, apa maunya suami kakak itu”. Ceritanya kembali, menceritakan ucapan adik perempuannya saat dimintai pendapat. “anty tau, saya hanya bisa nangis saat itu. Saya menangis bukan Karena apa yang dikatakan adik saya itu benar, bukan karena itu. Tapi saya menangis karena imam saya dipandang rendah olehnya. Bagaimana mungkin dia meremehkan setiap tetes keringat suami saya, padahal dengan tetesan keringat itu, Allah memandangnya mulia. 

Bagaimana mungkin dia menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk sujud dimalam hari. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang dengan kata-kata lembutnya selalu menenangkan hati saya. Bagaimana mungkin dia menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar saya, padahal saat itu orang tersebut belum mempunyai pekerjaan. Baigaimana mungkin seseorang yang begitu saya muliakan, ternyata begitu rendahdihadapannya hanya karena sebuah pekerjaan.

Saya memutuskan berhenti bekerja, karena tak ingin melihat orang membanding-bandingkan gaji saya dengan gaji suamisaya. Saya memutuskan berhenti bekerja juga untuk menghargai nafkah yang diberikan suami saya. Saya juga memutuskan berhenti bekerja untuk memenuhi hak-hak suami saya. Semoga saya tak lagi membantah perintah suami. Semoga saya juga ridho atas besarnya nafkah itu. Saya bangga ukhti dengan pekerjaan suami saya, sangat bangga, bahkan begitu menghormati pekerjaannya, karena tak semua orang punya keberanian dengan pekerjaan itu. Kebanyakan orang lebih memilih jadi pengangguran dari pada melakukan pekerjaan yang seperti itu. Tapi lihatlah suami saya, tak ada rasa malu baginya untuk menafkahi istri dengan nafkah yang halal. Itulah yang membuat saya begitu bangga pada suami saya. Semoga jika anty mendapatkan suami seperti saya, anty tak perlu malu untuk menceritakannya pekerjaan suami anty pada orang lain. Bukan masalah pekerjaannya ukhty, tapi masalah halalnya, berkahnya, dan kita memohon pada Allah, semoga Allah menjauhkan suami kita dari rizki yang haram”. Ucapnya terakhir, sambil tersenyum manis padaku.

Dia mengambil tas laptopnya,, bergegas ingin meninggalkannku. Kulihat darikejauhan seorang ikhwan dengan menggunakan sepeda motor bututmendekat ke arah kami, wajahnya ditutupi kaca helm, meskipun tak ada niatku menatap mukanya. Sambil mengucapkan salam, meninggalkannku. Wajah itu tenang sekali, wajah seorang istri yang begitu ridho.

Ya Allah….
Sekarang giliran aku yang menangis. Hari ini aku dapat pelajaran paling baik dalam hidupku. Pelajaran yang membuatu menghapus sosok pangeran kaya yang ada dalam benakku..

Subhanallah.. Sahabat..
Kekeliruan slama ini, orang mengganggap kebahagiaan itu adalan kaya akan materi.. 
mobil mewah..
rumah bagus..
Tapi sesungguhnya kekayaan sebanarnya itu ada saat kita merasa cukup akan nikmat ALLAH walaupun tanpa ada materi yang bersifat wah..


Monday, October 23, 2017

About Valentine Day Part 1

Assalamu allaikum.. hei, kalau kamu-kamu orang Islam, tolong sediakan waktu untuk membaca yaa? Tapi kalau nggak mau juga nggak apa-apa sih, karena nggak mau maksa juga. Tapi kalau ada yang bersedia meluangkan waktu untuk ngebaca makasih banget yaa? Dan maaf banget kalau cerpen ini agak terlalu panjang. Hehe.. selamat membaca. Semoga kalian suka. ^_^

“Tettt...tettt...” bunyi bel sekolah berdering menandakan bahwa para siswa/i harus segera memasuki kelas untuk mengikuti pelajaran pertama. Pelajaran pertama hari ini adalah pelajaran Agama. Ibu Riska bertubuh tinggi langsing dan putih cantik pun memasuki kelas dan memberi salam.

“Assalamu allaikum anak-anak” salam sang guru.
“Wa’allaikum salam bu guruuu” jawab kami serempak.

Bu Riska pun meletakkan buku bawaannya serta tasnya diatas mejanya. Bu Riska itu manis sekali dengan kerudung biru muda panjangnya. Sejenak aku pun berfikir “Pengen deh kayak bu Riska, meskipun menutup aurat tapi tetep cantik. Tapiii... pasti gerah banget deh”gumamku dalam hati.

“Baiklah, ibu absen dulu ya?” ucap bu Riska. Bu Riska pun meng-absen murid satu per satu. Hingga tiba pada huruf N “Nadhirah Asyifa”
“Hadir buk” jawabku. Nadhirah Asyifa, itulah namaku, seorang gadis remaja berusia hampir 17 tahun yang masih duduk dibangku kelas dua SMA. Kata ibuku, Nadhirah itu artinya “yang segar” sedangkan Syifa “Obat penawar”. Entahlah, mungkin aku dianggap suatu berkah yang akan menjadi segala macam obat yang segar untuk kedua orang tuaku karena aku adalah anak tunggal.

Aku lumayan dekat dengan bu Riska, usianya masih sangat muda, yaitu 23 tahun. Aku sering bertanya padanya tentang hal-hal yang tidak aku ketahui. Aku menganggap dia sebagai kakakku, karena aku adalah anak tunggal, jadi aku butuh sosok seorang kakak dan dia pun juga sudah lumayan kenal dengan kedua orang tuaku karena aku pernah mengajaknya kerumahku beberapa kali. Dan aku pernah menanyakan sesuatu kepadanya:

“Mbak, sejak kapan sih mbak pakek kerudung?” tanyaku pada bu Riska. Kalau diluar kelas atau diluar sekolah, aku lebih suka memanggilnya dengan sebutan mbak, karena dia masih muda dan cocok dipanggil dengan panggilan itu.
“Sejak mbak tamat SMA. Mungkin agak terlambat sih. Tapiii... nggak ada kata terlambat bagi Allah Dhira.” Jawab mbak Riska tersenyum.
“Apa alasan mbak memutuskan untuk memakan kerudung?” tanyaku lagi.
“Alasannya karena Allah. Mbak emang merasa terlambat menyadarinya, tapi mbak yakin Allah selalu memberi kesempatan untuk hambanya. Allah juga sudah menjelaskan dalam surat An-Nur ayat 31 yang artinya “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung” jadiii, kapan kamu mau seperti mbak?”
“Hehe, ntar ya mbak kalau udah dapat hidayah” jawabku.
Mbak Riska pun hanya menggeleng-geleng kepala dan tersenyum.
***

Bel istirahat sudah berbunyi. “Dhira, kekantin yuk? Laper nih” ajak sahabatku, Reni namanya.
“Aku nggak laper Ren, kamu aja ya?”
“Ehmmmm, it’s oke.” Jawabnya tersenyum pahit dan berlalu meninggalkanku.

Beneran deh, aku tuh nggak laper. Aku masih pengen melanjutkan bacaan novelku, Bumi Cinta karya Habiburrahman. Telingaku grasak-grusuk mendengar obrolan-obrolah temen-temen sekelasku.
“Lin, kamu valentine entar mau ngerayain sama siapa?” tanya Reva kepada Lina.
“Ya sama pacarku dong si Danil. Semalam dia ngajak aku gitu, katanya pas valentine entar dia tuh pengen makan malam romantis sama aku di Restorant terkenal. Habis itu dia pengen ngajak aku ngeliat kembang api gitu.” Jawab Lina penuh antusias.
“Aduuuhh.... romantis banget sih. Jadi iri nih” sahut yang lainnya, si Tika. “Terus kamu valentine sama siapa Va?” tanya Tika kepada Reva.
“Sama gebetan baru aku dong. Kalian pasti belum kenal kan? Nih, aku ada fotonya.” Reva tak kalah antusiasnya sambil menunjukkan foto gebetannya kepada teman-temannya.
“Wuih, ganteng binggo Va” jawab Lina dan Tika serempak. “Anak mana tuh?” tanya Tika.
“Anak SMA 1, anak orang kaya pulak. Dia ngajak aku valentine ntar. Yaaaa aku jawab aja mau. Kali aja aku bakal ditembak sama dia.” Kata Reva lebih semangat.
“Tika, Jangan bilang kamu ngga ngerayain valentine? Duuuhh, hari gini nggak ngerayain valentine, plis deh Tika, setahun sekali looooh.” Ejek Reva..
“Hehe, adaaa. Tenang aja, sebenernya aku udah punya pacar. Tapi, jangan bilang siapa-siapa ya?” si Tika angkat bicara..
“Wah parah, punya pacar nggak bilang-bilang ke kita. PARAH. Jadi, siapa pacarmu?” si Lina kepo binggo.
“Aku pacaran sama ketua tim sanggar seni di sekolah kita” Tika agak berbisik kepada kedua sahabatnya. Tapi cukuplah untuk aku mendengar percakapan mereka.
“APA?” Reva dan Lina tak percaya.
“Hussst... jangan berisik dong” sahut Tika.

Tanpa ku ketahui, Tika melirik kearahku. Mungkin dia takut aku mengetahui hubungannya dengan Reihan si ketua tim sanggar seni yang lumayan ganteng itu, karena dikelas ini hanya mereka bertiga dan aku doang, sedangkan yang lainnya mungkin kekantin atau kemana gitu.

“Hei...Dhira” Tika memanggilku.
Aku pun menoleh kebelakang, kearah mereka. “Ya” jawabku.
“Kamu lagi nggak nguping kan?” tanya Tika.
“Hehe...Enggaaak. Tapi jangan salahin aku kalau aku punya telinga dan bisa mendengar yaaa?.” Jawabku tersenyum.
“Ya deh nggak apa-apa. Ehhmm, Dhir..tiga hari lagi valentine. Kamu ngerayain sama siapa Dhira?” tanya Tika.
“Kepo banget sih Tika, ya pasti sama pacar Dhira lah” belum sempat aku menjawab, Reva malah menyambung. Mereka emang ramah dan nggak bermusuhan sama aku.
Aku pun tersenyum dan menjawab “Aku nggak punya pacar. Aku nggak boleh pacaran. Bahayaaa, masih sekolah kok pacaran” jawabku polos dan tersenyum.

Mereka bertiga pun mendekatiku. “Serius kamu nggak punya pacar? Nggak pernah pacaran? OMG HELLLOOO” kata Lina lebay. Aku pun menggeleng. “Aku kenalin sama temen aku mau nggak? Ganteng loh, kebetulan dia lagi jomblo. Namanya Riko anak 2 IPS 1. Kamu pasti kenal kan?” Lina menawarkan.
“Owh nggak usah, aku masih mau fokus sama sekolah dulu.” Jawabku.
Alhamdulillah, bel berbunyi tanda masuk pelajaran baru dan menyelesaikan pembicaraan yang menurutku nggak penting.
***

Sepulang sekolah.
“Ren, kamu nggak ngerayain valentine?” tanyaku pada sabahatku, Reni. Aku penasaran apakah sahabatku ini juga merayakan atau enggak.
“Enggak.” Jawabnya singkat.
“Kenapa? Padahal anak-anak yang lain pada heboh banget sama valentine”
“Yaaaa menurut aku nggak penting aja. Valentine, hari kasih sayang. Logikanya, berarti hari kasih sayang itu setahun cuma sekali dong.” Ucap Reni. “Kalau hari kasih sayang cuma sehari, terus hari lainnya hari apa? Masuk akal nggak sih? Lagi pula setahu aku, valentine itu adat dari orang-orang asing dan adat dari orang non muslim yang kita sendiri nggak tau latar belakangnya gimana. Betul nggak?” lanjutnya.
Aku pun manggut-manggut.
***

Dirumah....
Aku menelfon mbak Riska.
“Assalamu allaikum mbak. Lagi sibuk nggak?” sapaku.
“Wa’allaikum sallam. Enggak Dhir, mbak lagi istirahat aja ni. Emang ada apa?” tanyanya diseberang sana.
“Jalan-jalan yuk mbak ntar sore? Borring nih, makan dimana gitu. Sekalian aku pengen nanya sesuatu sama mbak, aku penasaran.”
“Ehmm, boleh-boleh. jam empat kita ketemuan di Cafe biasa ya?”
“Oke mbak” jawabku.

 Jam 15.40....
“Ibu, aku boleh pergi nggak?”
“Mau kemana kamu nak?” tanya ibu ramah.
“Aku mau makan sama mbak Riska. Boleh yaaaa?” pintaku manja.
“Iya boleh. tapi sebelum magrib harus udah nyampek rumah ya?”
“Iya ibuku sayang” aku pun mencium tangan ibu. “Dhira pamit bu. Assalamu allaikum.” Lanjutku.
“Wa’allaikum salam. Hati-hati tuh yaaa?” ucap ibuku agak teriak.
“Iya buuu”
***

Di Cafe...
Aku menceritakan kepada mbak Riska mengenai obrolanku dengan Reva the geng tadi disekolah. Sungguh, aku benar-benar penasaran tentang Valentine.
“Haha Dhira Dhira, kenapa kamu nggak cari jawabannya diinternet aja? Kan diinternet semuanya ada. Pastilah tentang Valentine juga ada.” Ucap Mbak Riska.
“Hehe iya juga ya” jawabku polos sambil garuk-garuk kepala, padahal kepalaku nggak gatal sama sekali. Hehe.. “Ya tapi berhubung udah sama mbak, mbak jelasin aja valentine itu apa? Pokoknya this is about valentine day lah.” Lanjutku.
“Oke. Nih mbak jelasin ya? Mbak pun tau nya dari mbah google loh. Emmm...Tentang sejarah Valentine ini ada banyak versi yang menyebutkan, tetapi dari sekian banyak versi menyimpulkan bahwa hari Valentine nggak punya latar belakang yang jelas sama sekali. Perayaan ini udah ada semenjak abad ke-4 SM, yang diadakan pada tanggal 15 Februari, perayaan yang bertujuan untuk menghormati dewa yang bernama Lupercus, dewa kesuburan, yang dilambangkan setengah telanjang dan berpakaian kulit kambing. Acara ini berbentuk upacara dan didalamnya diselingi penarikan undian untuk mencari pasangan. Dengan menarik gulungan kertas yang berisikan nama, para gadis mendapatkan pasangan. Kemudian mereka menikah untuk periode satu tahun, sesudah itu mereka bisa ditinggalkan begitu saja. Dan kalau sudah sendiri, mereka menulis namanya untuk dimasukkan kekotak undian lagi pada upacara tahun berikutnya, di google sih gitu ditulis.”

Dia pun melanjutkan Nah, dalam surat al-An’am ayat 116 yang artinya tuh begini, dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”

“Hari kasih sayang dirayakan oleh orang-orang Barat pada tahun-tahun terakhir disebut “valentine day” yang amat populer dan merebak dipelupuk Indonesia, bahkan di Malaysia juga. Lebih-lebih lagi kalau menjelangnya bulan Februari, dimana banyak kita temui jargon-jargon (simbol-simbol atau iklan-iklan) yang nggak Islami hanya wujud demi untuk mengekspos (mempromosi) Valentine.”

“Berbagai tempat hiburan bermula dari diskotik, hotel-hotel, organisasi-organisasi maupun kelompok-kelompok kecil, ramai yang berlomba-lomba menawarkan acara untuk merayakan Valentine. Dengan dukungan (pengaruh) media massa seperti surat kabar, radio maupun televisi; sebagian besar orang Islam juga turut dicekoki (dihidangkan) dengan iklan-iklan Valentine day.”

“Sungguh merupakan hal yang ironis (menyedihkan/nggak sepatutnya lah terjadi) apabila telinga kita mendengar bahkan kita sendiri ‘terjun’ dalam perayaan Valentine itu sendiri. Valentine itu sebenarnya adalah seorang Martyr (nah kalau dalam Islam disebut Syuhada) yang karena kesalahan dan sifatnya yang ‘dermawan’ maka dia diberi gelaran Saint atau Santo.”

“Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya dengan penguasa Romawi pada waktu itu yaitu Raja Claudius II yang seinget mbak itu pada tahun kurang lebih 268-270 M gitu lah. Nah, untuk mengagungkan dia si St. Valentine itu yang dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan hidup, maka para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai ‘upacara keagamaan’.”

“Tetapi sejak abad 16 M, ‘upacara keagamaan’ tersebut mulai berangsur-angsur hilang dan berubah menjadi ‘perayaan yang bukan keagamaan’. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi Kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.”

“Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani (Kristen), pesta “Supercalis” kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai “Hari kasih sayang” juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropa bahwa waktu kasih sayang itu mulai bersemi “Bagai burung jantan dan betina” pada tanggal 14 Februari. Dalam bahasa Perancis Normandia, pada abad pertengahan terdapat kata “Galentine” yang berarti ‘galant’ atau ‘cinta’. Persamaan bunyi antara galentine dan valentine menyebabkan orang berfikir bahwa sebaiknya para pemuda dalam mencari pasangan hidupnya pada tanggal 14 Februari. Dengan berkembangnya zaman, seorang ‘martyr’ bernama St. Valentine mungkin akan terus bergeser jauh pengertiannya (jauh dari arti yang sebenarnya). Manusia pada zaman sekarang nggak lagi mengetahui dengan jelas asal usul hari valentine. Dimana pada zaman sekarang ini orang mengenal valentine lewat (melalui greeting card lah, pesta persaudaraan lah, tukar kado lah dan sebagainya tanpa ingin mengetahui latar belakang sejarahnya lebih dari 1700 tahun yang lalu.”

“Nah, dari sini dapat diambil kesimpulan bahwa moment (hal/saat/waktu) ini hanyalah nggak lebih bercorak kepercayaan atau animisme belaka yang berusaha merusak ‘akidah’ muslim dan muslimah sekaligus memperkenalkan gaya hidup barat dengan kedok percintaan (bertopengkan percintaan), perjodohan dan kasih sayang.”

Padahal dalam alqur’an udah dijelasin loh. Kalau nggak salah dalam surat Al-Isra ayat 36 yang artinya Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

“Dalam Islam kata “tahu” berarti mampu mengindera (mengetahui) dengan seluruh panca indera yang dikuasai oleh hati. Pengetahuan yang sampai pada taraf mengangkat isi dan hakikat sebenarnya. Bukan hanya sekedar dapat melihat atau mendengar. Bukan pula sekadar tahu sejarah, tujuannya, apa, siapa, kapan, bagaimana dan dimana, akan tetapi lebih dari itu Dhira. Oleh karena itu, Islam amat melarang kepercayaan yang membonceng, (mendorong/mengikut) kepada suatu kepercayaan lain atau dalam Islam disebut Taqlid.”

“Dalam hadis Rasulullah Saw juga dijelaskan “Barang siapa yang meniru atau mengikuti suatu kaum (agama) maka dia termasuk kaum (agama) itu. Makanya Dhira jangan ikut-ikutan ya? Nggak mau jadi syirik kan?”
“Nggak mau lah mbak” jawabku.
“Yang perlu Dhira tau, dalam masalah Valentine itu perlu dipahami secara mendalam terutama dari kacamata agama karena kehidupan kita nggak bisa lari atau lepas dari agama Islam sebagai pandangan hidup.”
Lanjut Part 2